Pertanian Organik
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, organik merupakan suatu zat yang berasal dari
makhluk hidup (hewan atau tumbuhan). Segala bentuk benda atau sesuatu yang
berhubungan dengan makhluk hidup serta tanpa adanya bahan kimia sama sekali itulah
yang dinamakan organik. Baik itu dari limbah organik, pupuk organik, sampah
organik, bahan organik, maupun pertanian organik. Dalam hal ini, jika ditinjau
dari pengertiannya maka organik tidak akan membahayakan kehidupan manusia
karena tidak ada unsur kimia yang biasanya dapat menjadi racun dalam tubuh
manusia. Berbagai produk mengenai organik kini telah dikembangkan. Salah satu
yang terpopuler adalah metode pertanian organik
Pertanian
organik adalah sistem produksi pertanian
yang menghindari atau sangat membatasi penggunaan bahan-bahan kimia, seperti
pupuk kimia, pestisida, zat pengatur tumbuh dll. Sehingga pertanian organik
dapat mewujudkan terciptanya kondisi dan kelestarian lingkungan serta
menghindari pencemaran lingkungan. Tentu saja pertanian organik juga diwujudkan
dengan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan. Artinya, budidaya yang
dilakukan selalu memperhatikan keadaan lingkungan, dimana demi terwujudnya
peningkatan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Pengolahan pertanian organik didasarkan pada
prinsip kesehatan, ekologi, keadilan dan perlindungan.
Prinsip
kesehatan dimaksudkan agar tercipta peningkatan kesehatan tanah, tanaman,
hewan, bumi dan manusiasebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut
saling berhubungan dan tidak terpisahkan
Prinsip
ekologi artinya harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi lingkungan
mulai dari lingkup terkecil sampai yang paling besar (individu, populasi,
komunitas, ekosistem, bioma, biosfer)
Prinsip
keadlian maksudnya adalah dalam pertanian organik harus memperhatikan keadilan
baik antar manusia maupun dengan makhluk hidup lain di lingkungan.
Sementara
prinsip lindungan dimaksudkan untuk mencapai pertanian organik yang baik perlu
dilakukan pengelolaan yang berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi
kesehatan dan kesejahteraan manusia baik pada masa kini maupun masa depan.
Bukan
hanya itu, pertanian organik juga mengembangkan metode pertanian dengan
penggunaan teknologi modern yang tepat guna dan bermanfaat dari segi peningkatan
kesejahteraan produsen dan konsumen. Pertanian organik memanfaatkan proses
alami di dalam lingkungan untuk mendukung produktivitas pertanian, seperti
pemanfaatan legum (kacang-kacangan) untuk mengikat nitrogen ke dalam tanah,
memanfaatkan predator untuk menanggulangi hama, rotasi tanaman untuk
mengembalikan kondisi tanahdan mencegah penumpukan hama, penggunaan mulsa untuk
mengendalikan hama dan penyakit, dan pemanfaatan bahan alami, termasuk mineral
bahan tambang yang tidak diproses secara minimal, sebagai pupuk, pestisida, dan
pengkondisian tanah.
Tingginya keanekaragaman tanaman
pertanian adalah sebagai pertanda pertanian organik. Pertanian konvensional
mengarah pada peningkatan produksi massal hasil pertanian tunggal di lahan
(monokultur). Namun, dalam pelaksanaan pertanian organik lebih sering mengarah
pada polikultur (penanaman lebih dari satu jenis tanaman) yang kiranya lebih
menguntungkan, baik dari segi ekologinya maupun dari segi ekonomisnya.
Keanekaragaman tanaman pertanian membantu lingkungan untuk mempertahankan suatu
spesies yang dekat dengan lahan pertanian agar tidak punah.
Dalam pengelolaan tanahpun pertanian
organik bergantung sepenuhnya pada dekomposisi bahan organik tanah, menggunakan
berbagai teknik seperti pupuk hijau dan kompos untuk menggantikan nutrisi yang
hilang dari tanah oleh tanaman pertanian sebelumnya. Proses biologis ini
dikendalikan oleh berbagai mikroorganisme seperti mikoriza yang memungkinkan
terjadinya produksi nutrisi secara alami di dalam tanah sepanjang musim tanam.
Pertanian organik mendayagunakan berbagai metode untuk meningkatkan kesuburan
tanah, termasuk rotasi tanaman (pergiliran tanaman), pemanfaatan tanaman
penutup, pengolahan tanah tereduksi, dan penerapan kompos. Dengan mengurangi
pengolahan tanah, maka tanah dibalik dan tidak terpapar oleh udara. Hal ini
berarti nutrisi yang bersifat mudah menguap seperti nitrogen dan karbon semakin
sedikit yang menghilang.
Pada dasarnya, dalam pelaksanaan
budidaya tanaman organik (pertanian organik), harus harus memperhatikan
berbagai hal yang dalam aspek ini menjadi penunjang dalam pelaksanaan pertanian
yang berbasis organik atau berbasis alam. Hal-hal tersebut adalah :
1. Penyiapan
lahan
Suatu
budidaya tanaman bisa dikatakan organik apabila seluruh komponen dalam pelasanaan
budidayanya mengandung unsur-unsur organik. Begitu juga dengan persiapan
lahannya. Lahan untuk pertanian organik harus benar-benar terbebas dari residu
pupuk, pestisida dan obat-obat kimia sintetis. Proses pengalihan atau masa
transisi dari pertanian konvensional menuju ke pertanian organik membutuhkan
waktu setidaknya 1-3 tahun. Oleh sebab itulah, selama masih dalam masa transisi
itu produk pertanian yang dihasilkan belum bisa dikatakan organik karena
biasanya masih mengandung sisa-sisa residu-residu kimia.
2. Kondisi
pengairan
Keadaan
air yang digunakan dalam pengairan dalam budidaya tanaman organik juga harus
benar-benar terbebas dari residu bahan kimia. Percuma saja apabila sudah
menerapkan sistem pertanian organik tetapi air yang mengaliri lahan kita banyak
mengandung residu kimia. Hal itu sama seperti memberi makan pada produk
pertanian pada lahan konvensional, bukan organik. Sehingga dalam kaitannya
dengan hal tersebut, maka gunakan sumber air murni yang kiranya terbebas dari
residu kimia dan bisa menunjang pengairan dalam budidaya tanaman organik.
3. Penyiapan
benih tanaman
Benih
yang digunakan dalam pertanian organik harus berasal dari benih organik. Benih
organik bisa diperoleh dari perbanyakan benih konvensional. Untuk menjadikannya
organik, tanam benih tersebut, lalu seleksi hasil panen untuk dijadikan benih
kembali. Gunakan kaidah-kaidah pemuliaan dan penangaran benih pada umumnya.
Jangan lupa untuk membersihkan benih-benih tersebut dari residu pestisida.
Dalam pengawetan benih, jangan mengawetkannya dengan menggunakan pestisida,
fungisida atau hormon-hormon sintetis. Gunakanlah metode tradisonal untuk
mengawetkannya. Benih yang dihasilkan dari proses inilah sudah bisa dikatakan
benih organik.
Hal
yang perlu dicatat, benih hasil rekayasa genetika tidak bisa digunakan untuk
sistem pertanian organik.
4. Pupuk
dan penyubur tanah
Sudah
pasti pupuk yang menjadi komponen penting dalam pertanian organik, karena pupuk
yang menjadi sumber nutrisi tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Dalam pertanian organik, pupuk yang digunakan juga harus pupuk organik, seperti
:
a. Pupuk
kandang, merupakan pupuk yang berasal dari kotoran hewan-hewan ternak. Pupuk
kandang dibedakan menjadi 2 yakni :
-
Pupuk panas : pupuk yang dalam
penguraiannya oleh mikroorganisme berlangsung cepat dan timbul panas. Contohnya
: kotoran ayam, biri-biri, kuda
-
Pupuk dingin : pupuk yang dalam
pengurainnya olrh mikroorganisme berlangsung lama. Contoh : kotoran sapi dan
kotoran kerbau
b. Pupuk
kompos, merupakan pupuk yang dihasilkan dari pelapukan bahan organik melalui
proses biologis dengan bantuan organisme pengurai.
Contoh : pupuk bokashi
c. Pupuk
hijau, merupakan pupuk yang berasal dari pelapukan tanaman, baik tanaman sisa
panen maupun tanaman yang sengaja ditanam untuk diambil hijauannya. Tanaman
yang biasa digunakan untuk pupuk hijau diantaranya dari jenis leguminosea
(kacang-kacangan) dan tanaman air (azola). Jenis tanaman ini dipilih karena
memiliki kandungan hara, khususnya nitrogen yang tinggi serta cepat terurai
dalam tanah.
d. Pupuk
hayati organik, merupakan pupuk yang terdiri dari organisme hidup yang memiliki
kemampuan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menghasilkan nutrisi penting
bagi tanaman.
Karakteristik
pupuk organik adalah :
-
Memperbaiki sifat fisik (struktur dan
tekstur tanah), sifat kimia dan sifat biologi tanah
-
Sebagai sumber nutisi tanaman yang
paling lengkap
-
Meningkatkan daya simpan air
Ternyata
bukan hanya itu, bahan-bahan tambang mineral alami pun dapat digunakan dalam
pertanian organik, seperti :
-
Dolomit
-
Gipsum
-
Kapur khlorida
-
Batuan fosfat
-
Natrium klorida
5. Pengendalian
hama dan penyakit
Pada
pengendalian hama dan penyakit yang digunakan dalam pertanian organik adalah
dengan menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu.
Hal-hal
yang bisa dilakukan seperti :
-
Rotasi tanaman (pergiliran tanaman)
-
Pemilihan varietas unggul dan tahan HP
-
Pemanfaatan musuh alami
-
Menerapkan kultur teknis yang baik,
seperti pengolahan tanah, pemupukan, santasi lahan dll
Apabila
terjadi ledakan populasi HPT secara besar-besaran, dapat digunakan pestisida
organik. Kelebihan pestisida organik diantaranya adalah :
-
Lebih aman terhadap alam, karena sifat
material organik mudah terurai menjadi bentuk lain.
-
Residu pestisida organik tidak bertahan
lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman dikonsumsi
-
Penggunaan pestisida organik memberikan
nilai tambah pada produk yang dihasilkan
-
Penggunaan pestisida organik yang
diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan
resistensi pada hama.
Untuk
bahan-bahan yang bisa digunakan dalam pembuatan pestisida organik meliputi :
1. Adas
= biji
2. Alang-alang
= rimpang
3. Bawang-bawangan
= umbi
4. Bengkoang
= biji
5. Brotowali
= batang
6. Cabe
= buah
7. Cengkeh
= bunga
8. Gadung
= umbi
9. Daun
wangi = daun
10. Jahe
= rimpang
11. Jambu
mete = kulit
12. Jambu
biji = daun
13. Jengkol
= buah
14. Kayu
manis = daun
15. Kemangi
= daun
16. Kencur
= rimpang
17. Kenikir
= bunga
18. Kunyit
= rimpang
19. Lada
= biji, daun
20. Lengkuas
= rimpang
21. Mimba
= daun, biji
22. Mindi
= daun
23. Mahoni
= biji
24. Pacar
cina = daun
25. Pahitan/kipahit
= daun
26. Pandan
= daun
27. Selasih
= daun
28. Sembung
= daun
29. Sereh
= batang
30. Sirih
= daun abu
31. Srikaya
= biji
32. Sirsak
= biji, daun
33. Tembakau
= daun, batang
Adapun
macam-macam pestisida organik sangatlah beragam. Seperti :
1. Pengendali
serangga penghisap (kepik dan kutu-kutuan)
Alat dan bahan :
-
daun surian 1 kg
-
daun tembakau 1 kg
-
daun lagundi 1 kg
-
daun titonia 1 kg
-
air kelapa 2 liter
-
gambir 0,5 ons
-
garam dapur 1 ons
-
air panas 500 ml
-
penumbuk dari batu
Langkah kerja :
o
Tumbuk daun tembakau, daun surian, daun
lagundi dan daun titania
o
Aduk hingga rata
o
Rendam dalam air kelapa dan aduk-aduk
o
Peras dengan menggunakan kain
o
Saring kembali hasil perasan dan
tambahkan garam lalu kocok larutan
o
Siapkan cairan gambir dengan cara
melarutkan ½ ons gambir dalam 500 ml air panas, lalu saring dengan kain halus
o
Campurkan larutan daun-daunan dan
larutan gambir
o
Masukkan dalam botol atau jerigen
plastik
Cara
mengaplikasikan pestisida ini adalah dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam
10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Lakukan
penyemprotan pada pucuk tanaman terlebih dahulu kemudian permukaan atas dan
bawah daun. Frekuensi penyemprotan dianjurkan dua kali seminggu hingga populasi
larva atau kutu berkurang dan tidak membahayakan lagi
2. Pengendali
penyakit yang disebabkan bakteri
Siapkan bahan-bahan :
o
Daun sirih 1 ikat
o
Kunyit 2 ons
o
Bawang putih 3 ons
o
Ekstrak daun titonia 3 liter
Langkah
kerja :
o
Tumbuk bahan satu per satu atau
bersamaan
o
Rendam dalam ekstrak daun titonia selama
bebrapa menit, kemudian saring dengan kain halus
Cara
penggunaannya dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air. Frekuensi
penggunaan 2 kali dalam seminggu.
3. Pengendali
ulat pemakan daun
Bahan- bahan : air
kelapa 2 liter, ragi tape 1 butir, bawang putih 4 ons, deterjen 0,5 ons, kapur
tohor 4 ons
Langkah kerja : tumbuk
bawang putih hingga halus. Kemudian larutkan deterjen kedalam air kelapa dan
aduk hingga merata. Setelah itu, masukkan hasil tumbukan bawang putih, ragi
tape dan kapur tohor. Saring campuran tersebut dengan kain halus. Fermentasikan
cairan selama 20 hari dalam wadah tertutup.
Cara penggunaannya
adalah dengan mengencerkan larutan pestisida organik itu sebanyak 500 ml dengan
10 liter air bersih. Dapat digunakan sebanyak 2 kali seminggu dan lakukan
secara terus menerus sampai serangan ulat menurun sampai taraf tertentu.
6. Penanganan
pasca panen
Saat
penangan pasca panen, hal utama yang perlu diperhatikan adalah saat melakukan
kebersihan/pencucian. Kebersihan/pencucian harus dilakukan dengan menggunakan
air yang benar-benar bersih terhindar dari bahan-bahan kimia sintetis.
Selain
itu, proses pengangkutan dan penyimpanan produk sebaiknya tidak dicampur dengan
produk non organik. Untuk memberikan nilai tambah dan harga jual produk,
sebaiknya kemas produk-produk organik menggunakan bahan yang ramah lingkungan
dan bisa di daur ulangg.
7. Sertifikasi
pertanian organik
Sertifikasi
ini diperlukan untuk kepentingan pemasaran dan meningkatkan kepercayan konsumen
melalui sebuah lembaga. Kedepannya, Permentan Sistem Pertanian Organik akan
mengatur lembaga-lembaga sertifikasi organik. Tujuannya adalah untuk memudahkan
kontrol dan melindungi konsumen pangan organik.
8. Pemasaran
pertanian organik
Dalam
hal ini, produk-produk pertanian organik masih bisa menjadi komoditas unggulan
pertanian. Meskipun pemasarannya tergolong sulit, akan tetapi pertanian organik
memberikan banyak manfaat. Itulah yang menjadi hal penting yang dibutuhkan
konsumen. Hasilnyapun masih bisa bersaing di pasar konvensional, karena meski
biaya operasionalnya lebih besar, tapi input-input produksinya lebih murah.
Secara
umum, pengelolaan pertanian organik memberikan pengaruh besar. Baik terhadap
perkembangan kualitas pertanian itu sendiri maupun terhadap kesehatan serta
perekonomian masyarakat. Masyarakat bisa lebih leluasa untuk mengembangkan dan
mengeksploitasi potensi yang ada tanpa khawatir menimbulkan kerusakan
lingkungan.
Akan tetapi, perlu diketahui bahwa
seperti yang telah dijelaskan tadi, pola budidaya pertanian dikatakan
benar-benar organik jika memenuhi ketentuan tersebut. Apabila pembudidayakan
yang dilakukan masih bercampur sisa-sisa dari bahan kimia yang ada dari hasil
pertanian sebelumnya, maka belum bisa dikatakan sebagai pertanian organik, melainkan sebagai pertanian semi
organik. Pertanian semi organik adalah langkah awal untuk menuju ke pertanian
organik.