Rabu, 24 Februari 2016


Hay semua ??? udah pada kenal aku semua belom? Kalo belom  kenalin dulu ya ??
Perkenalkan nama saya chusnul marfuah. Alamat rumah di Kel. Sembung RT 04 RW 03 Tulungagung, Jawa Timur. Saya adalah Taruna Muda STPP Malang semester 1 tepatnya kelas Pertanian 1-A (Penyuluhan Pertanian.
Nah, udah pada kenal kan ?? hehehe,, .. kalo gitu yuk langsung aja masuk ke materi yang sempat saya dapatkan ketika saya di SMK dulu. Saya juga lulusan dari SMK Pertanian (SMKN 1 Tulungagung).
Eeeittss,,, sebelum membaca tulisan blog saya yang ini baca dulu blog saya sebelumnya mengenai “Pertanian Organik”
Disini saya akan mengulas tentang materi pertanian mulai dari awal, yaitu :

MENYIAPKAN BENIH
Bagaimana cara mendapatkan benih yang baik???
Benih merupakan awal kehidupan, sehingga untuk mendapatkan produksi yang tinggi perlu dipilih benih yang baik dan bermutu. Benih bermutu digolongkan menjadi 3 macam.
1.      Benih bermutu secara genetis , adalah benih yang berasal dari benih murni dan spesies / varietas yang dapat menunjukkan asal-usul dari identitas secara jelas.
Seperti : tanaman umur pendek/genjah
            Produksi tinggi
            Tahan terhadap penyakit
            Respon terhadap pemupukan
            Dan beradaptasi baik pada lingkungan
2.      Benih bermutu secara fisiologis, yaitu yang mempunyai daya tumbuh tinggi, percepatan perkecambahannya tinggi dan viabilitasnya tinggi
3.      Benih bermutu secara fisik, merupakan benih berkualitas yang ditunjukkan berdasarkan dari kualitas fisiknya


MENYIAPKAN BIBIT

Bibit adalah bahan tanam yang berupa tanaman muda / tunas
Benih adalah bahan tanam yang berupa biji
Alasan dipelajari menyiapkan bibit :
1.      Bibit memerlukan perlakuan khusus sebelum ditanam pada lahan sebenarnya
2.      Untuk menyiapkan bibit yang berkualitas
3.      Untuk menyiapkan tanaman yang berproduksi maksimal

Hal-hal yang disiapkan untuk menyiapkan bibit :
1.      Media tanam
2.      Bahan tanam : biji/ benih (Perbanyakan vegetatif)
3.      Tempat pembibitan
4.      Penyapihan

Adapun macam-macam media tanam :

1.    Bahan tanam organik :
Arang batok kelapa
Arang sekam
Cacahan pakis
Lempeng pakis
MOSSS
Humus

2.      Bahan tanam an organik :
Gel
Fermikulit
Spons
Kerikil
Sterofoam

Kelebihan arang :
-          Digunakan untuk tanaman anggrek di daerah dengan kelembaban tinggi
-          Sifatnya yang buffer/penyangga (penetralisir racun)
-          Tidak mudah lapuk

Kekurangan arang :
-          Arang kurang mampu mengikat air dalam jumlah banyak (cenderung miskin akan unsur hara)

Kelebihan batang akis :
-          Lebih umum digunakan sebagai media tanam
-          Mudah dibentuk menjadi potongan kecil dan dikenal sebagai jajan pakis
-          Mudah mengikat air
-          Memiliki aerase dan draenase yang baik
-          Serta berstruktur lunak

Kekurangan batang pakis : sring dihuni semut/binatang-binatang kecil

Kamis, 03 Desember 2015

pertanian organik - SOFT STPP Malang


Pertanian Organik

Hasil gambar untuk gambar pertanian organik


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, organik merupakan suatu zat yang berasal dari makhluk hidup (hewan atau tumbuhan). Segala bentuk benda atau sesuatu yang berhubungan dengan makhluk hidup serta tanpa adanya bahan kimia sama sekali itulah yang dinamakan organik. Baik itu dari limbah organik, pupuk organik, sampah organik, bahan organik, maupun pertanian organik. Dalam hal ini, jika ditinjau dari pengertiannya maka organik tidak akan membahayakan kehidupan manusia karena tidak ada unsur kimia yang biasanya dapat menjadi racun dalam tubuh manusia. Berbagai produk mengenai organik kini telah dikembangkan. Salah satu yang terpopuler adalah metode pertanian organik
Pertanian organik  adalah sistem produksi pertanian yang menghindari atau sangat membatasi penggunaan bahan-bahan kimia, seperti pupuk kimia, pestisida, zat pengatur tumbuh dll. Sehingga pertanian organik dapat mewujudkan terciptanya kondisi dan kelestarian lingkungan serta menghindari pencemaran lingkungan. Tentu saja pertanian organik juga diwujudkan dengan sistem pertanian yang berwawasan lingkungan. Artinya, budidaya yang dilakukan selalu memperhatikan keadaan lingkungan, dimana demi terwujudnya peningkatan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia.  Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan dan perlindungan.
Prinsip kesehatan dimaksudkan agar tercipta peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi dan manusiasebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan
Prinsip ekologi artinya harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi lingkungan mulai dari lingkup terkecil sampai yang paling besar (individu, populasi, komunitas, ekosistem, bioma, biosfer)
Prinsip keadlian maksudnya adalah dalam pertanian organik harus memperhatikan keadilan baik antar manusia maupun dengan makhluk hidup lain di lingkungan.
Sementara prinsip lindungan dimaksudkan untuk mencapai pertanian organik yang baik perlu dilakukan pengelolaan yang berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan dan kesejahteraan manusia baik pada masa kini maupun masa depan.
Bukan hanya itu, pertanian organik juga mengembangkan metode pertanian dengan penggunaan teknologi modern yang tepat guna dan bermanfaat dari segi peningkatan kesejahteraan produsen dan konsumen. Pertanian organik memanfaatkan proses alami di dalam lingkungan untuk mendukung produktivitas pertanian, seperti pemanfaatan legum (kacang-kacangan) untuk mengikat nitrogen ke dalam tanah, memanfaatkan predator untuk menanggulangi hama, rotasi tanaman untuk mengembalikan kondisi tanahdan mencegah penumpukan hama, penggunaan mulsa untuk mengendalikan hama dan penyakit, dan pemanfaatan bahan alami, termasuk mineral bahan tambang yang tidak diproses secara minimal, sebagai pupuk, pestisida, dan pengkondisian tanah.
            Tingginya keanekaragaman tanaman pertanian adalah sebagai pertanda pertanian organik. Pertanian konvensional mengarah pada peningkatan produksi massal hasil pertanian tunggal di lahan (monokultur). Namun, dalam pelaksanaan pertanian organik lebih sering mengarah pada polikultur (penanaman lebih dari satu jenis tanaman) yang kiranya lebih menguntungkan, baik dari segi ekologinya maupun dari segi ekonomisnya. Keanekaragaman tanaman pertanian membantu lingkungan untuk mempertahankan suatu spesies yang dekat dengan lahan pertanian agar tidak punah.
            Dalam pengelolaan tanahpun pertanian organik bergantung sepenuhnya pada dekomposisi bahan organik tanah, menggunakan berbagai teknik seperti pupuk hijau dan kompos untuk menggantikan nutrisi yang hilang dari tanah oleh tanaman pertanian sebelumnya. Proses biologis ini dikendalikan oleh berbagai mikroorganisme seperti mikoriza yang memungkinkan terjadinya produksi nutrisi secara alami di dalam tanah sepanjang musim tanam. Pertanian organik mendayagunakan berbagai metode untuk meningkatkan kesuburan tanah, termasuk rotasi tanaman (pergiliran tanaman), pemanfaatan tanaman penutup, pengolahan tanah tereduksi, dan penerapan kompos. Dengan mengurangi pengolahan tanah, maka tanah dibalik dan tidak terpapar oleh udara. Hal ini berarti nutrisi yang bersifat mudah menguap seperti nitrogen dan karbon semakin sedikit yang menghilang.
            Pada dasarnya, dalam pelaksanaan budidaya tanaman organik (pertanian organik), harus harus memperhatikan berbagai hal yang dalam aspek ini menjadi penunjang dalam pelaksanaan pertanian yang berbasis organik atau berbasis alam. Hal-hal tersebut adalah :
1.      Penyiapan lahan
Suatu budidaya tanaman bisa dikatakan organik apabila seluruh komponen dalam pelasanaan budidayanya mengandung unsur-unsur organik. Begitu juga dengan persiapan lahannya. Lahan untuk pertanian organik harus benar-benar terbebas dari residu pupuk, pestisida dan obat-obat kimia sintetis. Proses pengalihan atau masa transisi dari pertanian konvensional menuju ke pertanian organik membutuhkan waktu setidaknya 1-3 tahun. Oleh sebab itulah, selama masih dalam masa transisi itu produk pertanian yang dihasilkan belum bisa dikatakan organik karena biasanya masih mengandung sisa-sisa residu-residu kimia.
2.      Kondisi pengairan
Keadaan air yang digunakan dalam pengairan dalam budidaya tanaman organik juga harus benar-benar terbebas dari residu bahan kimia. Percuma saja apabila sudah menerapkan sistem pertanian organik tetapi air yang mengaliri lahan kita banyak mengandung residu kimia. Hal itu sama seperti memberi makan pada produk pertanian pada lahan konvensional, bukan organik. Sehingga dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka gunakan sumber air murni yang kiranya terbebas dari residu kimia dan bisa menunjang pengairan dalam budidaya tanaman organik.
3.      Penyiapan benih tanaman
Benih yang digunakan dalam pertanian organik harus berasal dari benih organik. Benih organik bisa diperoleh dari perbanyakan benih konvensional. Untuk menjadikannya organik, tanam benih tersebut, lalu seleksi hasil panen untuk dijadikan benih kembali. Gunakan kaidah-kaidah pemuliaan dan penangaran benih pada umumnya. Jangan lupa untuk membersihkan benih-benih tersebut dari residu pestisida. Dalam pengawetan benih, jangan mengawetkannya dengan menggunakan pestisida, fungisida atau hormon-hormon sintetis. Gunakanlah metode tradisonal untuk mengawetkannya. Benih yang dihasilkan dari proses inilah sudah bisa dikatakan benih organik.
Hal yang perlu dicatat, benih hasil rekayasa genetika tidak bisa digunakan untuk sistem pertanian organik.
4.      Pupuk dan penyubur tanah
Sudah pasti pupuk yang menjadi komponen penting dalam pertanian organik, karena pupuk yang menjadi sumber nutrisi tanaman dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam pertanian organik, pupuk yang digunakan juga harus pupuk organik, seperti :
a.       Pupuk kandang, merupakan pupuk yang berasal dari kotoran hewan-hewan ternak. Pupuk kandang dibedakan menjadi 2 yakni :
-          Pupuk panas : pupuk yang dalam penguraiannya oleh mikroorganisme berlangsung cepat dan timbul panas. Contohnya : kotoran ayam, biri-biri, kuda
-          Pupuk dingin : pupuk yang dalam pengurainnya olrh mikroorganisme berlangsung lama. Contoh : kotoran sapi dan kotoran kerbau
b.      Pupuk kompos, merupakan pupuk yang dihasilkan dari pelapukan bahan organik melalui proses biologis dengan bantuan organisme pengurai.
Contoh : pupuk bokashi
c.       Pupuk hijau, merupakan pupuk yang berasal dari pelapukan tanaman, baik tanaman sisa panen maupun tanaman yang sengaja ditanam untuk diambil hijauannya. Tanaman yang biasa digunakan untuk pupuk hijau diantaranya dari jenis leguminosea (kacang-kacangan) dan tanaman air (azola). Jenis tanaman ini dipilih karena memiliki kandungan hara, khususnya nitrogen yang tinggi serta cepat terurai dalam tanah.
d.      Pupuk hayati organik, merupakan pupuk yang terdiri dari organisme hidup yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan menghasilkan nutrisi penting bagi tanaman.
Karakteristik pupuk organik adalah :
-          Memperbaiki sifat fisik (struktur dan tekstur tanah), sifat kimia dan sifat biologi tanah
-          Sebagai sumber nutisi tanaman yang paling lengkap
-          Meningkatkan daya simpan air
Ternyata bukan hanya itu, bahan-bahan tambang mineral alami pun dapat digunakan dalam pertanian organik, seperti :
-          Dolomit
-          Gipsum
-          Kapur khlorida
-          Batuan fosfat
-          Natrium klorida
5.      Pengendalian hama dan penyakit
Pada pengendalian hama dan penyakit yang digunakan dalam pertanian organik adalah dengan menggunakan konsep Pengendalian Hama Terpadu.
Hal-hal yang bisa dilakukan seperti :
-          Rotasi tanaman (pergiliran tanaman)
-          Pemilihan varietas unggul dan tahan HP
-          Pemanfaatan musuh alami
-          Menerapkan kultur teknis yang baik, seperti pengolahan tanah, pemupukan, santasi lahan dll
Apabila terjadi ledakan populasi HPT secara besar-besaran, dapat digunakan pestisida organik. Kelebihan pestisida organik diantaranya adalah :
-          Lebih aman terhadap alam, karena sifat material organik mudah terurai menjadi bentuk lain.
-          Residu pestisida organik tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman dikonsumsi
-          Penggunaan pestisida organik memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan
-          Penggunaan pestisida organik yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan resistensi pada hama.
Untuk bahan-bahan yang bisa digunakan dalam pembuatan pestisida organik meliputi :
1.      Adas = biji
2.      Alang-alang = rimpang
3.      Bawang-bawangan = umbi
4.      Bengkoang = biji
5.      Brotowali = batang
6.      Cabe = buah
7.      Cengkeh = bunga
8.      Gadung = umbi
9.      Daun wangi = daun
10.  Jahe = rimpang
11.  Jambu mete = kulit
12.  Jambu biji = daun
13.  Jengkol = buah
14.  Kayu manis = daun
15.  Kemangi = daun
16.  Kencur = rimpang
17.  Kenikir = bunga
18.  Kunyit = rimpang
19.  Lada = biji, daun
20.  Lengkuas = rimpang
21.  Mimba = daun, biji
22.  Mindi = daun
23.  Mahoni = biji
24.  Pacar cina = daun
25.  Pahitan/kipahit = daun
26.  Pandan = daun
27.  Selasih = daun
28.  Sembung = daun
29.  Sereh = batang
30.  Sirih = daun abu
31.  Srikaya = biji
32.  Sirsak = biji, daun
33.  Tembakau = daun, batang
Adapun macam-macam pestisida organik sangatlah beragam. Seperti :
1.      Pengendali serangga penghisap (kepik dan kutu-kutuan)
Alat dan bahan :
            - daun surian 1 kg
- daun tembakau 1 kg
- daun lagundi 1 kg
- daun titonia 1 kg
- air kelapa 2 liter
- gambir 0,5 ons
- garam dapur 1 ons
- air panas 500 ml
- penumbuk dari batu
Langkah kerja :
o   Tumbuk daun tembakau, daun surian, daun lagundi dan daun titania
o   Aduk hingga rata
o   Rendam dalam air kelapa dan aduk-aduk
o   Peras dengan menggunakan kain
o   Saring kembali hasil perasan dan tambahkan garam lalu kocok larutan
o   Siapkan cairan gambir dengan cara melarutkan ½ ons gambir dalam 500 ml air panas, lalu saring dengan kain halus
o   Campurkan larutan daun-daunan dan larutan gambir
o   Masukkan dalam botol atau jerigen plastik
Cara mengaplikasikan pestisida ini adalah dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Lakukan penyemprotan pada pucuk tanaman terlebih dahulu kemudian permukaan atas dan bawah daun. Frekuensi penyemprotan dianjurkan dua kali seminggu hingga populasi larva atau kutu berkurang dan tidak membahayakan lagi
2.      Pengendali penyakit yang disebabkan bakteri
Siapkan bahan-bahan :
o   Daun sirih 1 ikat
o   Kunyit 2 ons
o   Bawang putih 3 ons
o   Ekstrak daun titonia 3 liter
Langkah kerja :
o   Tumbuk bahan satu per satu atau bersamaan
o   Rendam dalam ekstrak daun titonia selama bebrapa menit, kemudian saring dengan kain halus
Cara penggunaannya dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air. Frekuensi penggunaan 2 kali dalam seminggu.
3.      Pengendali ulat pemakan daun
Bahan- bahan : air kelapa 2 liter, ragi tape 1 butir, bawang putih 4 ons, deterjen 0,5 ons, kapur tohor 4 ons
Langkah kerja : tumbuk bawang putih hingga halus. Kemudian larutkan deterjen kedalam air kelapa dan aduk hingga merata. Setelah itu, masukkan hasil tumbukan bawang putih, ragi tape dan kapur tohor. Saring campuran tersebut dengan kain halus. Fermentasikan cairan selama 20 hari dalam wadah tertutup.
Cara penggunaannya adalah dengan mengencerkan larutan pestisida organik itu sebanyak 500 ml dengan 10 liter air bersih. Dapat digunakan sebanyak 2 kali seminggu dan lakukan secara terus menerus sampai serangan ulat menurun sampai taraf tertentu.
6.      Penanganan pasca panen
Saat penangan pasca panen, hal utama yang perlu diperhatikan adalah saat melakukan kebersihan/pencucian. Kebersihan/pencucian harus dilakukan dengan menggunakan air yang benar-benar bersih terhindar dari bahan-bahan kimia sintetis.
Selain itu, proses pengangkutan dan penyimpanan produk sebaiknya tidak dicampur dengan produk non organik. Untuk memberikan nilai tambah dan harga jual produk, sebaiknya kemas produk-produk organik menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan bisa di daur ulangg.
7.      Sertifikasi pertanian organik
Sertifikasi ini diperlukan untuk kepentingan pemasaran dan meningkatkan kepercayan konsumen melalui sebuah lembaga. Kedepannya, Permentan Sistem Pertanian Organik akan mengatur lembaga-lembaga sertifikasi organik. Tujuannya adalah untuk memudahkan kontrol dan melindungi konsumen pangan organik.
8.      Pemasaran pertanian organik
Dalam hal ini, produk-produk pertanian organik masih bisa menjadi komoditas unggulan pertanian. Meskipun pemasarannya tergolong sulit, akan tetapi pertanian organik memberikan banyak manfaat. Itulah yang menjadi hal penting yang dibutuhkan konsumen. Hasilnyapun masih bisa bersaing di pasar konvensional, karena meski biaya operasionalnya lebih besar, tapi input-input produksinya lebih murah.
Secara umum, pengelolaan pertanian organik memberikan pengaruh besar. Baik terhadap perkembangan kualitas pertanian itu sendiri maupun terhadap kesehatan serta perekonomian masyarakat. Masyarakat bisa lebih leluasa untuk mengembangkan dan mengeksploitasi potensi yang ada tanpa khawatir menimbulkan kerusakan lingkungan.
            Akan tetapi, perlu diketahui bahwa seperti yang telah dijelaskan tadi, pola budidaya pertanian dikatakan benar-benar organik jika memenuhi ketentuan tersebut. Apabila pembudidayakan yang dilakukan masih bercampur sisa-sisa dari bahan kimia yang ada dari hasil pertanian sebelumnya, maka belum bisa dikatakan sebagai pertanian  organik, melainkan sebagai pertanian semi organik. Pertanian semi organik adalah langkah awal untuk menuju ke pertanian organik.